Selasa, 28 Mei 2013
Sabtu, 20 April 2013
GENERALISASI
Generalisasi adalah suatu proses penalaran yang bertolak
dari sejumlah fenomena individual (khusus) menuju kesimpulan umum yang mengikat
selutuh fenomena sejenis dengan fenomena individual yang diselidiki.
Macam
– macam Generalisasi :
1. Generalisasi sempurna adalah generalisasi di mana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki.
Misalnya setelah kita memperhatikan jumlah hari pada setiap bulan tahun Masehi kemudian disimpulkan bahwa:
Semua bulan Masehi mempunyai hari tidak lebih dari 31.
Dalam penyimpulan ini, keseluruhan fenomena yaitu jumlah hari pada setiap bulan kita selidiki tanpa ada yang kita tinggalkan.
Generalisasi macam ini memberikan kesimpulan amat kuat dan tidak dapat diserang. Tetapi tentu saja tidak praktis dan tidak ekonomis.
1. Generalisasi sempurna adalah generalisasi di mana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki.
Misalnya setelah kita memperhatikan jumlah hari pada setiap bulan tahun Masehi kemudian disimpulkan bahwa:
Semua bulan Masehi mempunyai hari tidak lebih dari 31.
Dalam penyimpulan ini, keseluruhan fenomena yaitu jumlah hari pada setiap bulan kita selidiki tanpa ada yang kita tinggalkan.
Generalisasi macam ini memberikan kesimpulan amat kuat dan tidak dapat diserang. Tetapi tentu saja tidak praktis dan tidak ekonomis.
2. Generalisasi tidak sempurna yaitu generalisasi
berdasarkan sebagian fenomena untuk mendapatkan kesimpulan yang berlaku bagi
fenomena sejenis yang belum diselidiki.
Misalnya setelah kita menyelidiki sebagian bangsa Indonesia bahwa mereka adalah manusia yang suka bergotong-royong, kemu¬dian kita simpulkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang suka bergotong-royong, maka penyimpulan ini adalah generalisasi tidak sempurna.
Misalnya setelah kita menyelidiki sebagian bangsa Indonesia bahwa mereka adalah manusia yang suka bergotong-royong, kemu¬dian kita simpulkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang suka bergotong-royong, maka penyimpulan ini adalah generalisasi tidak sempurna.
Beberapa contoh pendekatan silogisme dan genelisasi dalam
penelitian yang dilakukan guru:
Guru berpikir bahwa minat siswa berpengaruh pada tingginya prestasi belajar. Oleh karena itu, guru melakukan penelitian yang judulnya “Korelasi antara Minat dengan Prestasi Belajar” atau “Pengaruh Minat terhadap Prestasi Belajar”. Dalam contoh ini mungkin guru merasa telah melakukan suatu tindakan karena sudah menyusun angket minat dan membuka dokumen daftar nilai. Apa hasilnya? Setelah angket disebarkan kepada siswa, kemudian diperoleh data dan diolah dengan statistik maka guru akan memperoleh informasi berupa indeks korelasi. Guru puas, tetapi prestasi belajar siswa tidak terpengaruh apa-apa, jadi tetap saja tidak naik.
Guru berpikir bahwa minat siswa berpengaruh pada tingginya prestasi belajar. Oleh karena itu, guru melakukan penelitian yang judulnya “Korelasi antara Minat dengan Prestasi Belajar” atau “Pengaruh Minat terhadap Prestasi Belajar”. Dalam contoh ini mungkin guru merasa telah melakukan suatu tindakan karena sudah menyusun angket minat dan membuka dokumen daftar nilai. Apa hasilnya? Setelah angket disebarkan kepada siswa, kemudian diperoleh data dan diolah dengan statistik maka guru akan memperoleh informasi berupa indeks korelasi. Guru puas, tetapi prestasi belajar siswa tidak terpengaruh apa-apa, jadi tetap saja tidak naik.
Ditinjau dari sisi guru, sama sekali profesinya tidak
meningkat. Dalam peristiwa ini guru hanya menyusun angket minat dan
menganalisis nilai yang ada pada dokumen.
Contoh lain yang banyak dilakukan oleh guru, tetapi sangat tidak tepat adalah penelitian untuk mengetahui pengaruh latar belakang pendidikan orang tua dengan prestasi belajar siswa. Dalam hal ini guru juga tidak melakukan apa-apa, bahkan berpikir kurang tepat. Guru berprasangka, jika pendidikan orang tua siswa tinggi, pasti dapat memberikan bimbingan kepada anaknya dalam belajar sehingga prestasi anak-anak tinggi. Hasil dari penelitian ini justru ada bahayanya. Jika prestasi siswa yang orang tuanya berpendidikan tinggi lebih baik dari siswa yang orang tuanya berpendidikan rendah, saran peneliti harus berbunyi: “Orang tua sebaiknya berpendidikan tinggi agar prestasi anaknya baik”.
Contoh lain yang banyak dilakukan oleh guru, tetapi sangat tidak tepat adalah penelitian untuk mengetahui pengaruh latar belakang pendidikan orang tua dengan prestasi belajar siswa. Dalam hal ini guru juga tidak melakukan apa-apa, bahkan berpikir kurang tepat. Guru berprasangka, jika pendidikan orang tua siswa tinggi, pasti dapat memberikan bimbingan kepada anaknya dalam belajar sehingga prestasi anak-anak tinggi. Hasil dari penelitian ini justru ada bahayanya. Jika prestasi siswa yang orang tuanya berpendidikan tinggi lebih baik dari siswa yang orang tuanya berpendidikan rendah, saran peneliti harus berbunyi: “Orang tua sebaiknya berpendidikan tinggi agar prestasi anaknya baik”.
Jika hasilnya berbalik, saran yang diberikan harus
berbunyi: “Sebaiknya orang tua siswa tidak usah berpendidikan tinggi karena
dikhawatirkan prestasi anaknya menjadi tidak baik”.
Contoh ketiga ; guru mempunyai permasalahan tentang aktifitas belajar siswa, penguasaan materi pembelajaran dengan sarana belajar, sehingga guru melakukan penelitian dengan menggunakan model pembelajaran tutor sebaya, setelah melakukan penelitian dapat dikatakan ada peningkatan siswa menjadi aktif, penyempaian materi menjadi menyenangkan karena temannya menjadi tutor atau pemberi materi pelajaran.
Contoh ketiga ; guru mempunyai permasalahan tentang aktifitas belajar siswa, penguasaan materi pembelajaran dengan sarana belajar, sehingga guru melakukan penelitian dengan menggunakan model pembelajaran tutor sebaya, setelah melakukan penelitian dapat dikatakan ada peningkatan siswa menjadi aktif, penyempaian materi menjadi menyenangkan karena temannya menjadi tutor atau pemberi materi pelajaran.
Dari contoh di atas dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Pada contoh pertama : penelitian yang dilakukan guru salah atau tidak sah karena tidak menggunakan pendekatan silogime yang benar, yaitu :
Pengaruh Minat terhadap Prestasi Belajar
angket disebarkan kepada siswa
prestasi belajar siswa tidak berubah
1. Pada contoh pertama : penelitian yang dilakukan guru salah atau tidak sah karena tidak menggunakan pendekatan silogime yang benar, yaitu :
Pengaruh Minat terhadap Prestasi Belajar
angket disebarkan kepada siswa
prestasi belajar siswa tidak berubah
2. Contoh kedua :
Pendidikan orang tua siswa tinggi
Pendidikan orang tua siswa tinggi
….. tidak terjadi kesimpulan
Pendidikan orang tua siswa tinggi
Pendidikan orang tua siswa tinggi
….. tidak terjadi kesimpulan
3. Contoh ketiga :
Jika menggunakan metode yang sesuai dan kreatif maka Siswa aktif dan belajar menyenangkan
Penggunaan variasi metode pembelajaran di lakasanakan
Maka siswa menjadi aktif
Pada contoh ketiga ini menggunakan penddekatan silogisme hipotetik, yaitu jika A terlaksana maka B terlaksana
Jika menggunakan metode yang sesuai dan kreatif maka Siswa aktif dan belajar menyenangkan
Penggunaan variasi metode pembelajaran di lakasanakan
Maka siswa menjadi aktif
Pada contoh ketiga ini menggunakan penddekatan silogisme hipotetik, yaitu jika A terlaksana maka B terlaksana
DAFTAR
PUSTAKA
Mundiri, Logika, Jakarta : Rajawali Pers, 1994.
Nasution, Hakim, Andi, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta :
Pustaka Sinar Harapan, 2005
Arikunto, Suharsimi, dkk. Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : PT Bumi
Aksara, 2006.
Mundiri, Logika, Jakarta : Rajawali Pers, 1994.
Nasution, Hakim, Andi, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta :
Pustaka Sinar Harapan, 2005
Arikunto, Suharsimi, dkk. Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : PT Bumi
Aksara, 2006.
Rabu, 30 Januari 2013
TEORI PENELITIAN
Kata
Pengantar
Kata pengantar karya tulis dan karya ilmiah adalah uraian yang menjelaskan tentang maksud tujuan karya tulis atau karya ilmiah tersebut. Penulisan kata pengantar karya tulis ini bermanfaat untuk memberi tahu lebih dahulu mengenai isi karya tulis dan karya ilmiah secara lebih baik.
Penulisan kata pengantar karya ilmiah dan karya tulis ini sebaiknya mejelaskan maksud dan tujuan membuat karya tulis dan karya ilmiah. Tak lupa juga memberikan harapan dan solusi yang baik dalam penjabaran isi di dalamnya,
Dalam penulisan kata pengantar karya ilmiah dan karya tulis ini sebaiknya dibuat dengan kalimat yang dapat memberi kesan bahwa si penulis dapat mepertanggung jawabkan hasil karya ilmiah dan karya tulisnya
Pada dasarnya daftar isi ini tidak hanya berfungsi untuk mengetahui halaman sebuah artikel melainkan juga untuk mengetahui kelompok artikel atau kategori yang akan dibahas dan dibagi kedalambeberapabagianyangdisebutbab.
Pendahuluan
Pendahuluan merupakan bab pertama dari karya tulis yang berisi jawaban apa dan mengapa penelitian itu perlu dilakukan. Bagian ini memberikan gambaran mengenai topik penelitian yang hendak disajikan. Oleh karena itu, pada bab pendahuluan memuat latar belakang masalah, rumusan masalah, dan tujuan penelitian
Masalah penelitian harus dirumuskan secara spesifik. Dengan perumusan yang spesifik, akan dapat menunjukkan tentang gambaran yang lebih menfokus mengenai arah pemecahannya. Namun demikian, walaupun harus dirumuskan secara spesifik, peneliti pada waktu mengidentifikasi masalah penelitiannya, terlebih dahulu harus memberikan gambaran umum dan menyeluruh tentang masalah-masalah yang bersifat umum, agar peneliti tetap memiliki wawasan yang lebih komprehensif dan makro. Baru sesudah gambaran komprehensif dan makronya dibeberkan, pembatasan masalah penelitian yang sifatnya lebih spesifik dikemukakan. Hal itu disarankan, oleh karena masalah-masalah penelitian yang dirumuskan terlalu spesifik dan sempit, dikhawatirkan peneliti akan kehilangan dari konteks wawasan yang bersifat makro.
Tujuan
penelitian mengungkapkan tentang sasaran yang ingin dicapai dengandilakukannya
penelitian terhadap masalah yang telah dikemukakan sebelumnya dalam perumusan
masalah. Isi dan rumusan pada bagian tujuan ini mengacu kepada isi danrumusan
masalah penelitian. Perbedaannya, jika masalah penelitian dirumuskan dengankalimat tanya, tujuan penelitian diungkapakan
dengan bentuk pernyataan.
•
Tinjauan pustaka mempunyai arti :
penin-jauan kembali pustaka-pustaka yang terkait (review of related literature).
• Sesuai dengan artinya tersebut, suatu tin-jauan pustaka berfungsi sebagai peninjauan kembali (review) pustaka (laporan penelitian, dsb) tentang masalah yang ber-kait.
Daftar Pustaka atau nama lainnya
adalah bibliografi adalah sebuah daftar yangberisi judul buku-buku, artikel-
artikel, dan bahan-bahan penerbitan lainnya,yang mempunyai pertalian dengan
sebuah karangan atau sehagian dan karanganyang tengah digarap.
Rangkuman dapat diartikan sebagai suatu hasil merangkum atau
meringkas suatu tulisan ataupembicaraan menjadi suatu uraian yang lebih singkat
dengan perbandingan secara proporsionalantara bagian yang dirangkum dengan
rangkumannya (Djuharni, 2001). Rangkuman dapat puladiartikan sebagai hasil
merangkai atau menyatukan pokok-pokok pembicaraan atau tulisan yangterpencar
dalam bentuk pokok-pokoknya saja. Rangkuman sering disebut juga ringkasan,
yaitu bentuk ringkas dari suatu uraian atau pembicaraan Pada tulisan jenis
rangkuman, urutan isi bagiandemi bagian, dan sudut pandang (pendapat) pengarang
tetap diperhatikan dan dipertahankan.
KESIMPULAN
Kata pengantar karya tulis dan karya ilmiah adalah uraian yang menjelaskan tentang maksud tujuan karya tulis atau karya ilmiah tersebut. Penulisan kata pengantar karya tulis ini bermanfaat untuk memberi tahu lebih dahulu mengenai isi karya tulis dan karya ilmiah secara lebih baik.
Penulisan kata pengantar karya ilmiah dan karya tulis ini sebaiknya mejelaskan maksud dan tujuan membuat karya tulis dan karya ilmiah. Tak lupa juga memberikan harapan dan solusi yang baik dalam penjabaran isi di dalamnya,
Dalam penulisan kata pengantar karya ilmiah dan karya tulis ini sebaiknya dibuat dengan kalimat yang dapat memberi kesan bahwa si penulis dapat mepertanggung jawabkan hasil karya ilmiah dan karya tulisnya
Daftar Isi
Daftar isi adalah bagian terpenting
yang tidak boleh kita tinggalkan. Daftar isi berguna untuk memudahkan pembaca
mengetahui dihalaman mana bab yang ingin dibacanya. Daftar isi biasanya
diletakkan setelah Kata Pengantar. Daftar isi dibuat secara berurutan dari
halaman paling awal hingga halaman paling akhir termasuk lampiran yang terdapat
dalam makalah tersebut.Pada dasarnya daftar isi ini tidak hanya berfungsi untuk mengetahui halaman sebuah artikel melainkan juga untuk mengetahui kelompok artikel atau kategori yang akan dibahas dan dibagi kedalambeberapabagianyangdisebutbab.
Pendahuluan
Pendahuluan merupakan bab pertama dari karya tulis yang berisi jawaban apa dan mengapa penelitian itu perlu dilakukan. Bagian ini memberikan gambaran mengenai topik penelitian yang hendak disajikan. Oleh karena itu, pada bab pendahuluan memuat latar belakang masalah, rumusan masalah, dan tujuan penelitian
Latar Belakang
Latar belakang adalah dasar atau titik tolak untuk memberikan pemahaman kepada pembaca atau pendengar mengenai apa yang ingin kita sampaikan. Latar belakang
yang baik harus disusun dengan sejelas mungkin dan bila perlu disertai dengan data atau fakta yang mendukung.
Beberapa hal yang terdapat dalam latar belakang adalah: - Kondisi ideal mencakup
keadaan yang dicita-citakan, atau diharapkan terjadi. Kondisi ideal ini
biasa dituangkan dalam bentuk visi dan misi yang
ingin diraih.
- Kondisi aktual merupakan
kondisi yang terjadi saat ini. Biasa menceritakan perbedaan situasi antara
kondisi saat ini dengan kondisi yang dicita-citakan terjadi.
- Solusi merupakan
saran singkat
atau penawaran penyelesaian terhadap masalah yang
dialami sebelum melangkah lebih lanjut ke pokok
bahasan.
Perumusan Masalah
Setelah
masalah yang akan diteliti itu ditentukan (variabel apa saja yang akan
diteliti, dan bagaimana hubungan variabel satu dengan yang lain), dan supaya
masalah dapat terjawab secara akurat, maka masalah yang akan diteliti itu perlu
dirumuskan secara spesifik. Perumusan masalah merupakan pemetaan faktor-faktor
dan variabel-variabel yang terkait. Kualitas suatu penelitian tidak cukup
dipertimbangkan berdasarkan kriteria-kriteria sebagaimana diuraikan sebelumnya.
Kualitas suatu penelitian juga ditentukan oleh bagaimana masalah penelitian
tersebut dirumuskan. Untuk dapat menyajikan perumusan masalah penelitian yang
baik, perlu diikuti beberapa persyaratan sebagai berikut:Masalah penelitian harus dirumuskan secara spesifik. Dengan perumusan yang spesifik, akan dapat menunjukkan tentang gambaran yang lebih menfokus mengenai arah pemecahannya. Namun demikian, walaupun harus dirumuskan secara spesifik, peneliti pada waktu mengidentifikasi masalah penelitiannya, terlebih dahulu harus memberikan gambaran umum dan menyeluruh tentang masalah-masalah yang bersifat umum, agar peneliti tetap memiliki wawasan yang lebih komprehensif dan makro. Baru sesudah gambaran komprehensif dan makronya dibeberkan, pembatasan masalah penelitian yang sifatnya lebih spesifik dikemukakan. Hal itu disarankan, oleh karena masalah-masalah penelitian yang dirumuskan terlalu spesifik dan sempit, dikhawatirkan peneliti akan kehilangan dari konteks wawasan yang bersifat makro.
Tujuan Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
• Sesuai dengan artinya tersebut, suatu tin-jauan pustaka berfungsi sebagai peninjauan kembali (review) pustaka (laporan penelitian, dsb) tentang masalah yang ber-kait.
Kegunaan tinjauan pustaka :
1. Mengungkapkan
penelitian-penelitian yang serupa dengan penelitian yang (akan) dilakukan.
2. Membantu memberi gambaran tentang
metode dan teknik yang dipakai dalam penelitian yang mempunyai permasalahan
serupa atau mirip penelitian yang dihadapi
3. Mengungkapkan sumber-sumber data (judul-judul
pustaka yang berkait) yang mungkin belum diketahui sebelumnya
4. Mengenal peneliti-peneliti yang
karyanya penting dalam permasalahan yang dihadapi (yang mungkin dapat menjadi
nara sumber atau dapat ditelusuri karya-karya tulisnya yang lain yang mungkin terkait)
5. Memperlihatkan kedudukan
penelitian yang (akan) dilakukan dalam sejarah perkembangan dan konteks ilmu
pengetahuan atau teori tempat penelitian berada.
Daftar Pustaka
Fungsi Daftar Pustaka adalah memberikan
deskripsi yang penting tentang buku, majalah, harian itu secarakeseluruhan.
Sebagai pelengkap dan sebuah catatan kaki.
Unsur-Unsur Daftar Pustaka
Pokok yang paling penting yang harus
dimasukkan dalam sebuah bibliografi adalah:
1. Nama
pengarang, yang dikutip secara lengkap.
2. Judul Buku,
termasuk judul tambahannya.
3. Data publikasi: penerbit, tempat
terbit, tahun terbit, cetakan ke-berapa, nomor jilid, dan tebal (jumlah
halaman) buku tersebut.
4. Untuk sebuah artikel diperlukan pula
judul artikel yang bersangkutan,nama majalah, jilid. nomor dan tahun.
Bentuk Daftar Pustaka
a. Dengan seorang pengarangContoh
:Hockett. Charles F.
A Course in Modern Linguistics.
New York: The Mac MillanCompany.
1963Ketentuannya :1. Nama keluarga (Hockett ). lebih dahulu. baru nama kecil
atau inisial (CharlesF.). kemudian gelar-gelar. Hal ini untuk memnudahkan
penyusunansecara alfabetis.
RANGKUMAN (RINGKASAN)
KESIMPULAN
Kesimpulan adalah pernyataan berisi fakta, pendapat, alasan pendukung mengenai
tanggapan suatu objek. Bisa dikatakan bahwa kesimpulan merupakan pendapat akhir
dari suatu uraian berupa informasi. Dalam soal Bahasa Indonesia kesimpulan bisa
berupa rangkaian kalimat kalimat fakta yang di beri pendapat.
Sumber/rujukan :
http://ebookbrowse.com/
Buku Bahasa Indonesia 2
Minggu, 02 Desember 2012
KALIMAT EFEKTIF
A.
Pengertian
Kalimat efektif adalah
kalimat yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
1. Secara tepat
mewakili gagasan pembicara atau penulisnya.
2. menimbulkan gagasan
yang sama tepatnya antara pikiran pendengar atau pembaca seperti yang
dipikirkan oleh pembicara atau penulisnya.
B.
Ciri-Ciri Kalimat Efektif
Ciri-ciri kalimat
efektif adalah memiliki kesatuan gagasan,kesejajaran,kehematan, dan penekanan. Untuk
lebih jelasnya, perhatikan keterangan dibawah ini .
1.
Kesatuan Gagasan
Kalimat efektif harus
memperlihatkan kesatuan gagasan dan mengandung satu ide pokok. Sebuah kalimat
dikatakan memiliki kesatuan gagasan apabila subjek,predikat, dan unsur-unsur
lainnya saling mendukung dan membentuk kesatuan tunggal.
Contoh :
-
Di dalam keputusan itu merupakan
kebijaksanaan yang dapat membantu keselamatan umum.
Kalimat tersebut tidak
memiliki satu kesatuan kareena tidak didukung oleh kehadiran subjek. Untuk mengefektifkan
kalimat tersebut, frase depan di dalam harus dihilangkan. Dengan demikian,
kalimat itu menjadi :
-
Keputusan itu merupakan kebijaksanaan
yang dapat membantu keselamatan umum.
2.
Kesejajaran
Kesejajaran yang
dimaksud adalah penggunaan bentukan kata atau frase imbuhan yang memiliki
kesamaan, baik dalam fungsi maupun bentuknya. Jika bagian kalimat itu
menggunakan kata kerja berimbuhan di-, bagian kalimat yang lainnya pun harus
menggunakan di- pula.
Contoh :
-
Kakak menolong anak itu dengan dipapahnya
ke pinggir jalan.
Kalimat tersebut tidak efektif karena tidak memiliki
kesejajaran antara predikat-predikatnya. Kalimat itu harus diubah menjadi :
-
Kakak menolong anak itu dengan
memapahnya ke pinggir jalan.
-
Anak itu ditolong kakak dengan
dipapahnya ke pinggir jalan.
3.
Kehematan
Kalimat efektif tidak
boleh menggunakan kata-kata yang tidak perlu. Setiap kata haruslah memiliki
fungsi yang jelas. Penggunaan kata-kata yang berlebihan justru akan memperlemah
dan mengaburkan maksud dari kalimat itu.
Contoh :
-
Bunga-bunga mawar,anyelir,dan melati
sangat disukainya.
Pemakaian kata
bunga-bunga dalam kalimat di atas tidak perlu. Dalam kata yang
mawar,anyelir,dan melati terkandung makna bunga.
4.
Penekanan
Bagian kalimat yang
dipentingkan perlu ditonjolkan dari unsur-unsur yang lain. Beberapa cara yang
dapat dilakukan untuk member penekanan itu adalah berikut ini :
a. Mengubah posisi
dalam kalimat,yakni dengan cara
meletakkan bagian penting di depan kalimat.
Contoh :
-
Harapan kami
adalah agar soal ini dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan lain.
b. Menggunakan partikel
; penekanan bagian kalimat dapat menggunakan partikel –lah,pun,dan –kah.
Contoh :
-
Kami pun
turut dalam kegiatan itu.
c. Menggunakan
repetisi, yakni dengan mengulang-ulang kata yang dianggap penting.
d. Menggunakan
pertentangan, yakni menggunakan kata yang bertentangan atau berlawanan
maksudnya dalam bagian kalimat yang ingin ditegaskan.
Contoh :
-
Ia tidak menghendaki perbaikan yang
sifatnya parsial,tetapi total dan menyerah.
Rujukan :
Judul buku : Intisari TATA BAHASA INDONESIA.
Penerbit : Pustaka Setia
Jumat, 02 November 2012
Ejaan dalam Peristilahan
A.
Ejaan Fenomenik
Penulisan
istilah pada umumnya berdasarkan pada ejaan fenomenik.Artinya hanya satu bunyi
yang berfungsi dalam bahasa Indonesia yang dilambangkan dengan huruf.
Misalnya :
-
presiden bukan president
-
standar
bukan
standart
B.
Ejaan Etimologi
Untuk menegaskan
makna yang berbeda, istilah yang homonym dengan kata lain dapat ditulis dengan
mempertimbangkan etimologinya, yakni sejarahnya. Sehingga bentuknya berlainan
walaupun lafaalnya mungkin sama.
Misalnya :
-
bank dengan bang
-
sangksi dengan sangsi
C.
Transliterasi
Pengejaan
istilah juga dapat dilakukan menurut aturan trasliterasi. Yakni penggantian
huruf demi huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain, lepas dari bunyi
lafal yang sebenarnya. Hal itu misalnya, diterapkan menurut anjuran
International Organization for Standardization(ISO) pada huruf arab
(rekomendasi ISO-R 2333), Yunani (rekomendasi ISO-R 315), Siril(Rusia) (rekomendasi ISO-R 9) yang
dialihkan ke huruf latin.
Misalnya :
-
yaum
ul-adha (hari
kurban)
-
suksma (sukma)
-
psyche (jiwa,batin)
-
Moskva (Moskwa,Moskou)
D.
Ejaan Nama Diri
Ejaan nama
diri,termasuk merek dagang yang di dalam bahasa aslinya ditulis dengan huruf
latin,tidak dirubah.
Misalnya : Baekelund,Cannizaro,Aquadag,Daeron.
Nama diri yang dibentuk aslinya ditulis dengan huruf lain
dieja menurut rekomendasi dari ISO,ejaan Inggris yang lazim,atau ejaan
Pinyin(Cina).
Misalnya : Keops, Sokrates, Dimitri
Ivanovic Mendellev, Anton
Cekhow, Mao Zedong, Beijing.
E. Penyesuaian Ejaan
Dalam perkembangannya
bahasa Indonesia menyerap unsur pelbagai bahasa lain, baik dari bahasa daerah
maupun bahasa asing, seperti Sansekerta, Arab, Portugis, Belanda, dan Inggris.
Berdasarkan taraf integrasinya unsur serapan dalam bahasa Indonesia dapat
dibagi atas tiga golongan besar.
Pertama, unsur-unsur yang
sudah lama terserap ke dalam bahasa Indonesia yang tidak perlu lagi diubah
ejaannya. Misalnya, sirsak, iklan,
otonomi, dongkrak, pikir, paham, aki.
Kedua, unsur asing yang
belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia,seperti shuttle cock, real estate. Unsur-unsur ini dipakai di dalam konteks bahasa
Indonesia, tetapi pengucapannya masih mengikuti cara asing.
Ketiga, unsur yang
pengucapannya dan penulisannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia.
Dalam hal ini diusahakan agar ejaan bahasa asing hanya dibuah sepenuhnya
sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk aslinya.
Kaidah penyesuaian ejaan bagi unsur serapan semacam itu sebagai berikut :
aa (Belanda) menjadi a
paal pal
baal bal
octaaf oktaf
E. Penyesuaian Huruf Gugus
Konsonan Asing
Huruf gugus konsonan pada
istilah asing yang tidak diterjemahkan dan diterima ke dalam bahasa Indonesia,
sedapat-dapatnya dipertahankan bentuk visualnya.
a. Huruf gugus konsonan di awal atau di tengah
fl- : flexible menjadi fl- :
fleksibel
fr- : frequenci fr- : frekuensi
phl- : phlegmatic fl- : flegmatik
phr- : schizophrenia fr- : skizofrenia
b. Huruf gugus konsonan akhir
-ck : block menjadi -k :
blok
-ct : contract -k : kontrak
-nt : gradient -n : gradien
Nama Penulis : →
Anggi Sopiandi (10110835)
→
Ferras Satrio (12110752)
Rujukan :
Judul Buku:
PEDOMAN UMUM EJAAN BAHASA INDONESIA YANG DISEMPURNAKAN & PEDOMAN UMUM
PEMBENTUK ISTILAH.
Penerbit : PUSTAKA SETIA Bandung.
Langganan:
Postingan (Atom)