Minggu, 18 Maret 2012

Cara merawat Hamster Melahirkan

1. hal yang pertama yang harus kamu lakukan adalah, pindahkan hamster2 lain yang ada di kandang itu termasuk pejantannya.... jadi biarkan si betina sendiri dan anak2nya.....

2. pindahkan semua mainan, rumah2an, tempat makan, jadi saat ini yang cuma ada adalah, kandang + tempat air minum, karena biasanya tempat air minum diatas kandang jadi tak masalah, (pasti pada bertanya2, trus makannya dimanaaaaaaa??? ) jadi untuk saat ini lebih baik makanan ditaruh di dasar aja tanpa alas

adapun alasannya adalah, karena sering sekali anak hamster terseret oleh induknya yang pada akhirnya bisa terjepit di tempat makan, mainan dll

3. pindahkan semua pasir zeolite yang ada, karena pasir zeolite mempunyai permukaan kasar dan keras, jadi banayak juga kasus dimana anak hamster terjepit induknya di bawah pasir zeolite yang akhirnya membuat anak hammie tak bisa bernafas dan mati...

4. kurangi serbuk kayu yang ada... jadi kurangin 3/4 dari yang ada... klo bisa buat di sekeliling induk saja...

5. ambil koran /karton hitam lebih bagus, tutup sekeliling kandang, atasnya juga... tapi dengan bolong2 diatas, karena pada saat ini induk hammie lebih nyaman dan tidak stress dengan keaadan gelap, karena hamster jenis hewan malam..

6. STEP 6 INI KONDISI CORE/INTI, dimana banyak orang yang piara hamster tidak mengetahui dan menyebabkan anak hamster mati dan first birth gagal

a. JGN PERNAH PEGANG ANAK-ANAK HAMSTER DAN INDUKNYA sampai anak2 hamster mulai membuka mata, baru keadaan aman bole dipegang.., memang kelihatan lucu dan ingin tahu, tapi JANGAN!!!!!!!! (karena saat induk mencium bau yang lain dari anak2nya akan bersifat defensive, yang membuat biasanya kenapa anak hammie dimakan, serta jangan pegang induknya karena merasa defensive juga akhirnya dia juga makan anak2nya.

b. KONDISI INDUK SEDANG MENYUSUI, GIZI HARUS LENGKAP, nah ini juga yang sering dilupakan oleh orang-orang, kadang kita pikir hamsfood dan yang lain cukup, NYATANYA TIDAK!!!!, ini juga salah satu faktor kenapa indukan sering memakan anaknya, karena saat seperti ini si anak itu berfungsi sebagai parasit, sehingga kalau kekurangan gizi maka induk akan memakan anaknya lagi, secara anak hamster mempunyai protein yang tinggi, (terbukti kalau Snake lover's mereka lebih suka pinkies/bayi tikus untuk makanan ular mereka, karena kandungan gizi yang tinggi)

jadi berikan gizi yang cukup seperti :
- susu strawberry jelly
- putih telur yang direbus dan dihancur2kan
- tablet corella dan spirulina juga bagus...
- Ulat sutra (optional : kalo hamster pernah dan rutin dikasi ini, bole dikasih saat melahirkan, tapi kalau tidak pernah dan mau dikasih, lebih baik jangan, karena belom terbiasa, takutnya induk menganggap ini sebagai ancaman)

c. berikan daun katuk segar pada hamster sekitar 3 batang per hari, terserah pembagiannya, terbukti air susu hamster akan melimpah dan mau tidak mau harus dikeluarkan dan ini merupakan berita bagus untuk kita semua.. karena air susu banyak = anak hammie cepat besar...

7. J
angan suka bulak balik melihat, kalau memang mau lihat, lihatlah dari jauh, intinya pantau keadaan tapi keep invisible, hahahaha

8. ada beberapa indukan yang tidak mau menyusui anaknya, tapi kasus ini jarang terjadi kalau step 1 sampe 6 dituruti dan terpenuhi.. (saya pun pernah mengalami kasus seperti ini, yang akhirnya menyusui sendiri) tapi pengerjaan yang repot sekali...

9. rutin lah memberi makan dan mengganti air setiap hari, tapi kandang JANGAN PERNAH DIBERSIHKAN TERLEBIH DAHULU!!!!!!!!!!, memang kelihatan kotor dan hancur2an, tapi ya sudah lah, karena kehidupan hammie lebih penting daripada pandangan visual kita

10. setelah itu semua dilakukan, YEyyyy ada hammie hammie baru.... CONGRATZ........

Problem Solving and Decision Making

Membuat keputusan untuk memecahkan masalah selalu dilatabekangi bayang-bayang kepastian, ketidakpastian, dan risiko. Umumnya manajer mengambil keputusan berdasarkan pengalaman. Saran paling baik : Jangan menunggu sampai problem muncul. Deciding not to decide is a decision. Ini salah satu kiat para manajer. Tapi itu jarang terjadi. Sekecil apapun suatu masalah selamanya akan disusul dengan pengambilan keputusan dalam bentuk tindakan nyata. Menelorkan keputusan adalah tugas pokok seorang manajer. Proses pengambilan keputusan memang selalu diwarnai tiga faktor tadi. Di bawah kondisi yang pasti, boleh dibilang tidak ada kendala yang merintangi. Anda disuguhi informasi yang akurat, hal-hal yang dapat diraba dengan perangkat ukur yang berlaku sehingga hasil dari keputusan itu seakan terlihat jelas. Contoh, dalam keadaan pasar yang normal maka setiap penamabahan stok gudang sebanyak 20% akan terjadi peningkatan penjualan 5%.
Bagaimana bila keputusan itu dibuat di bawah bayang-bayang ketidakpastian dan risiko. Ternyata dua faktor ini lebih banyak mendominasi peta pemecahan masalah manajemen. Di sini, hasil keputusan selalu digambarkan dengan kata-kata: mungkin berhasil, mungkin gagal. Bahkan seringkali manajer tidak mengetahui apa kemungkinan yang bakal terjadi.
Sekian banyak penelitian menyimpulkan, kelemahan para manajer (termasuk lulusan MBA) justru karena mereka menggunakan metode alamiah dan melupakan proses ilmiah dalam membuat keputusan. Secara naluriah, manusia cenderung cepat membuat keputusan tanpa berlama-lama berpikir tatkala dihadapkan pada problem yang mendesak.
Coba simak contoh ini: Anda sedang mengendarai mobil di jalan toll. Kemudian Anda melihat jarum temperatur menunjuk angka tinggi yang disusul oleh mencuatnya asap dari kap mobil Anda tentu Andai segera menepikan mobil. Tindakan selanjutnya? Pasti membuka tutup mesin, mencari air, dari menambahkan air pada tangki radiator. Menghidupkan kembali mesin, dan berjalan mulus. Tiba-tiba problem serupa muncul lagi. Berarti, Anda telah membuang waktu dan mungkin mengadapi masalah lebih berat.
Kekurangan para manajer, sering membuat terapi hanya pada gejala yang nampak langsung, Sumber masalah tadi kemungkinan datang dari radiator yang bocor, tali kipas putus, thermostat rusak, atau jumlah penumpang yang berlebihan. Pada prinsipnya keputusan terdiri dari dua klasifikasi. Keputusan yang diprogramkan dan yang tidak diprogramkan. Keputusan terprogram bersifat rutin dan pengulangan. Seorang manajer, atau katakan sebuah organisasi, dalam hal itu telah mempunyai cara-cara yang sistematis dan mapan dalam menangani permasalahan. Salah satu kategori dari kebijaksanaan terprogram itu, misalnya proses administrasi rumah sakit bila ada pasien baru. Para pembuat keputusan tinggal mengikuti manual yang sudah digariskan.
Keutusan yang tidak terprogram, misalnya memilih lokasi penempatan gudang baru. Pendeknya setiap masalah unik yang jarang sekali atau belum parah muncul dan terliput oleh kebijaksanaan yang sudah disusun perusahaan, tercakup dalam krangka pengambilan keputusan yang bersifat non program menjadi tugas para manajer yang telah memasuki hirarki organisasi puncak.
Sebab itu kebanyakan program pelatihan para top manajer umumnya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan membuat keputusan terhadap masalah yang tidak diprogram. Semakin perusahaan mekar, yang dengan sendirinya melahirkan divisi dan unit-unit baru, maka keputusan di tengah krisis lebih sering dihadapi para manajer.
Dalam praktek manajemen, banyak problem datang dengan sendirinya ke hadapan para anajer, dan sebagian harus ditemui sendiri oleh para manajer. Namun tidak semua manajer mampu mengatasi setiap persoalan yang muncul, apalagi mencari permasalahan yang belum nampak. Penting untuk dipelajari, bagaimana menjatuhkan prioritas terhadap klasifikasi berat ringannya problem yang harus ditangani lebih dahulu, mana yang cukup didelegasikan kepada bawahan, mana yangmustidiputuskansendiri.
Sumber : Majalah Eksekutif Edisi Oktober 1987

Minggu, 11 Maret 2012

Misteri dibalik Cara Hidup Masyarakat Jepang

Orang Jepang selalu terlihat misterius. Mereka biasanya jarang tersenyum, kaku dan terlihat sering saling tingkah. Mengetahui ada apa dibalik kebiasaan yang sering dilakukan mungkin dapat sedikit menyibak kemisteriusannya. Kimono, sumo, sumpit dan sake adalah empat hal yang selalu berkaitan dengan Jepang. Ketiga hal itu juga banyak mempengaruhi cara hidup mereka.
Kimono
Kimono misalnya, baju tradisional ini ternyata bukan sekedar penutup tubuh. Banyak falsafah hidup yang terkandung di dalamnya. Mengenakan kimono tidak boleh sembarang. Ada aturan baku yang harus diikuti. Tidak hanya itu, banyak hal unik yang dilakukan masyarakat berkaitan dengan hal-hal tersebut.
Sumpit
Sumpit tidak bisa dipisahkan dalam tata cara makan. Sebagian besar orang Jepang akan mematahkan sumpitnya menjadi dua bagian selesai makan. Menurut adat, apabila sumpit tidak dipatahkan, mereka akan terserang suatu penyakit akibat makanan tersebut. Namun, saat ini tradisi tersebut hanya dilakukan saat bersantap di restoran. Untuk bersantap di rumah, setiap anggota keluarga menyimpan sendiri sumpit masing-masing. Bertukar sumpit tabu dilakukan karena dapat dianggap membawa sial.
Budaya yang dipengaruhi agama Budha juga mempengaruhi pentingnya benda ini. Masyarakat Jepang selalu menyediakan semacam sesaji untuk arwah kerabatnya yang berbentuk semangkuk nasi dengan sepasang sumpit yang tertancap tegak lurus ditengah nasi. Sepintas benda ini akan berbentuk seperti kuburan dengan sumpit sebagai nisannya.
Sumo
Kita mungkin bertanya mengapa pemain Sumo selalu berbadan gendut dan besar. Memang , syarat utama pemain Sumo adalah, lelaki dengan struktur tulang besar, dan mampu dan mau menambah berat badannya. tidak semua pemain sumo besar sejak kecil. Malah, banyak yang menjadi besar dan gendut setelah masuk pelatihan khusus. Ketika seseorang sudah diterima sebagai pemain sumo, ia harus mampu menjaga “kebesaran” badannnya.
Banyak anak muda yang bercita-cita sebagai pemain sumo. Hal ini dapat dimengerti karena seorang juara sumo mendapat tempat istimewa dalam masyarakat. Setiap pemain dianggap dewa daerah asalnya. Dua orang petarung dianggap mewakili Dewa Gunung (Yamasachichiko) dan Dewa Lautan (Umisachichiko). Sebagai juara dia berhak memperoleh fasilitas mobil lengkap dengan bahan bakarnya selama setahun penuh (bensin sangat mahal di Jepang). Ia juga berhak memperoleh seribu jamur shiitake dan seekor sapi setiap kali makan. Selain itu, ia juga berhak mengkonsumsi minuman cola sesuka hatinya.
Sake
Minuman tradisional ini harus diminum dalam cangkir yang kecil. Hal ini berkaitan dengan tradisi Jepang Kuno. Nenek moyang mereka selalu makan dengan tempat yang terbuat dari kulit kerang besar. Sedangkan kulit kerang kcil digunakan sebagai cawan air. Maka, saat ini minuman harus selalu ditempatkan di wadah kecil. Sedangkan makanan dalam wadah yang lebih besar. Setiap orang yang hendak minum, harus menuangkannya untuk temannya terlebih dulu. Pada acara minum, pantang menuangkannya untuk diri sendiri.
Mabuk setelah minum sake adalah hal yang biasa. Apalagi minuman dengan kadar alkohol tinggi ini (sekitar 20%) harus selalu hadir dalam setiap acara. Sejak remaja mereka sudah boleh minum sake. Namun, tentu saja hanya satu atau dua cangkir. Sake selalu disajikan dalam tiga kategori. Dari yang biasa sampai spesial. Jenis sake yang paling biasa disebut nikyu. Kualitas yang diatasnya disebut ikkyu. Sedangkan yang spesial disebut tokkyu. Untuk acara seperti pernikahan, perayaan karena promosi jabatan atau hanya sekedar makan malam romantis tentu saja harus sake spesial. Tingginya kadar alkohol di dalam sake membuat kesan orang Jepang suka sekali mabuk. Selain sake, mereka juga suka sekali minum whiski dan bir.
Selain ketiga hal diatas, banyak tradisi lain yang menarik. Saling bertukar kartu nama seperti yang sering kita lakukan saat bertemu kenalan baru, dipercaya berasal dari Jepang. Oleh karena itu, kartu nama adalah hal yang penting seperti halnya telepon genggam. Sebagian besar perusahaan Jepang mencetak kartu nama karyawannya dengan kertas dan bentuk yang menarik. Semakin bagus kartu namanya, semakin bergengsi perusahaannya. Masih menganggap orang Jepang misterius?

Sumber : Wikipedia

Paten

Paten adalah hak khusus yang diberikan negara kepada penemu atas hasil penemuannya di bidang teknologi, untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri penemuannya tersebut atau memberikan persetujuan kepada orang lain untuk melaksanakannya (Pasal 1 UU Paten).
Paten diberikan untuk penemuan baru, mengandung langkah inventif dan dapat diterapkan dalam industri.
Proses pengajuan permintaan paten tersebut melibatkan pemeriksaan administrarif dan pemeriksaan substantif.
Dalam pemeriksaan administratif yang dinilai hanyalah kelengkapan persyaratan administrasinya, sedangkan pemeriksaan substantif yang dinilai adalah isi dari penemuan tersebut.

Paten tidak secara otomatis diberikan negara tetapi ada proses pengajuan permintaan paten secara resmi dalam bahasa Indonesia ke Kantor Paten (Departemen Kehakiman Republik Indonesia di Jakarta).
Surat permintaan paten harus memuat :
a. tanggal, bulan, dan tahun surat permintaan;
b. alamat lengkap dan jelas orang yang mengajukan permintaan termaksud pada huruf a;
c. nama lengkap dan kewarganegaraan penemu;
d. dalam hal permintaan diajukan orang lain selaku kuasa dilengkapi pula nama lengkap dan alamat lengkap kuasa yang bersangkutan;
e. surat kuasa khusus, dalam hal permintaan diajukan oleh kuasa;
f. permintaan untuk diberikan paten;
g. judul penemuan;
h. klaim yang terkandung dalam penemuan;
i. deskripsi tertulis tentang penemuan, yang secara lengkap memuat keterangan tentang cara melaksanakan penemuan;
j. gambar yang disebut dalam deskripsi yang diperlukan untuk memperjelas;
k. abstraksi mengenai penemuan.
Apabila seluruh persyaratan administrarif sudah terpenuhi, maka permohonan tersebut dicatat, dan tanggal pencatatan ini dinamakan "filing date". Sebagai dasar perhitungan jangka waktu perlindungan paten selama 20 (dua puluh) tahun, apabila nantinya permohonan dikabulkan.  Setelah pemeriksaan administratif, Kantor Paten akan melakukan pengumuman (pertama) permintaan paten, untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat yang mungkin berkepentingan untuk dapat mengajukan pandangan atau keberatan secara tertulis dan beralasan kepada Kantor Paten. Pengumuman tersebut dilaksanakan dalam waktu 6 (enam) bulan.
Tahapan berikutnya adalah pemeriksaan substantif dan terhadap penemuan tersebut (merk toko buku) yang lulus tes tersebut oleh Kantor Paten dilakukan pengumuman (kedua) dalam Berita Resmi Paten setelah dicatat dalam Daftar Umum Paten. Kepada penemu (Anda) berhak diberikan surat paten, sebagai alat pembuktian.
Terakhir, adalah masa pemeliharaan paten. Jangka waktu perlindungan paten adalah 20 (dua puluh) tahun, dan selama dalam jangka waktu tersebut pemegang paten wajib membayar biaya tahunan pemeliharaan paten setiap tahunnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Setelah jangka waktu 20 (dua puluh) tahun berakhir, paten dengan sendirinya hapus dan penemuan (merk toko buku) tersebut menjadi milik umum, yang bebas dilaksanakan oleh siapa saja.  Mengenai biaya permintaan paten ditentukan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses Komunikasi

Proses komunikasi adalah bagaimana sang komunikator menyampaikan pesan kepada komunikannya, sehingga dapat dapat menciptakan suatu persamaan makna antara komunikan dengan komunikatornya. Proses Komunikasi ini bertujuan untuk menciptakan komunikasi yag efektif (sesuai dengan tujuan komunikasi pada umumnya). Ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi proses komunikasi . Faktor-faktor ini terdapat pada setiap unsur komunikasi seperti: komunikator, pesan, medium dan resipiens.
A. PADA KOMUNIKATOR
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses komunikasi adalah:
1) Pengetahuan tentang komunikasi dan keterampdan berkomunikasi.
Yang dimaksudkan adalah penguasaan bahasa dan keterampiIan mempergunakan bahasa; keterampilan mempergunakan media komunikasi untuk mempermudah proses pengertian pada resipiens; kemampuan untuk mengenal dan menganalisis situasi pendengar sehingga dapat memberikan sesuatu yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Di samping itu jenis hubungan antara komunikator dan resipiens dapat juga mempengaruhi efektivitas proses komunikasi.
2) Sikap komunikator
Sikap komunikator seperti agresif (menyerang) atau cepat membela diri, sikap yang mantap dan meyakinkan; sikap rendah hati, rela mendengar dan menerima anjuran dapat memberi dampak yang besar dalam proses komunikasi retoris.
3) Pengetahuan umum
Demi efektivitas dalam komunikasi retoris, komunikator se-baiknya memiliki pengetahuan umum yang luas, karena dengan begitu dia dapat mengenal dan menyelami situasi pendengar dan dapat mengerti mereka secara lebih baik. Dia harus mengetahui dan menguasai bahan yang dibeberkan secara mendalam, teliti dan tepat. Dia juga hendaknya mengetahui dan mengerti hal-hal praktis dari kehidupan harian para pendengarnya, supaya dapat menyampaikan sesuatu yang mampu menggugah hati mereka.
4) Sistem sosial
Setiap komunikator berada dan hidup di dalam sistem masyarakat tertentu. Posisi, pangkat atau jahatan yang dimiliki komunikator di dalam masyarakat sangat mempengaruhi efektivitas komunikasi retoris (misalnya: sebagai pemimpin atau bawahan; sebagai orang yang berpengaruh atau tidak).
5) Sistem kebudayaan
Di samping sistem sosial, sistem kebudayaan yang dimiliki se-orang komunikator juga dapat mempengaruhi efektivitas komunikasi retoris. Tingkah laku, tata adab dan pandangan hidup yang diwarisinya dari suatu kebudayaan tertentu akan juga mempengaruhi efektivitas dalam proses komunikasi retoris dengan manusia lain.
B. FAKTOR-FAKTOR PADA RESIPIENS
Faktor-faktor ini pada umurnnya sama dengan faktor-faktor yang mempengaruhi komunikator.
1) Pengetahuan tentang komunikasi dan keterampilan berkomunikasi
Supaya dapat terjadi komunikasi, resipiens harus menguasai Bahasa yang dipergunakan. Keduanya hanya dapat saling berkomunikasi dan saling mengerti apabila mereka mempergunakan perbendaharaan kata yang sama dan yang dimengerti oleh kedua belah pihak. Komunikasi tidak akan terjadi apabila bahasa yang dipergunakan oleh komunikator tidak dimengerti oleh resipiens. Dalam hubungan dengan hal ini, perlu diperhatikan bahwa pendengar mempunyai cara mendengar dan mengerti sendiri, yang dapat berbeda dari apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh komunikator.
2) Sikap resipiens
Faktor ini juga ikut menentukan efektivitas komunikasi retoris. Sikap-sikap positif seperti terbuka, senang, tertarik dan simpatik akan memberi pengaruh positif dalam proses komunikasi; Sebaliknya sikap-sikap negatif seperti tertutup, jengkel, tidak simpatik terhadap komunikator akan mendatangkan pengaruh negatif.
3) Sistem sosial dan kebudayaan
Sistem sosial dan kebudayaan tertentu dapat menghasilkan sifat dan karakter khusus pada resipiens. Orang dapat bersifat patuh, rendah hati. suka mendengar, tidak banyak bicara atau tidak berani menantang. Di lain pihak orang bisa menjadi kritis, suka memhantah dan tidak mudah tunduk kepada pimpinan. Juga cara menyampaikan sesuatu tidak sama di antara masyarakat yang satu dengan yang lain. Sebab itu komunikator harus memperhatikan segala faktor ini. apabila dia mau mengharapkan efek yang besar dalam proses komunikasi dengan para pendengarnya.
C. FAKTOR-FAKTOR PADA PESAN DAN MEDIUM
Antara komunikator dan resipiens ada pesan dan medium. Kedua faktor ini perlu diperhatikan oleh komunikator secara khusus dalam proses komunikasi retoris.
1) Elemen-elemen Pesan
Komunikator menerjemahkan pesan dengan mempergunakan medium. Dalam proses ini, komunikator harus memperhatikan elemen-elemen yang membentuk pesan, supaya komunikasi dapat membawa efek yang bestir. Elemen-elemen itu berupa kata-kata dan kalimat, pikiran atau ide yang dibeberkan, alat peraga yang dipakai untuk meng-konkretisasi pesan, suara, tekanan suara, artikulasi, mimik dan gerak-gerak untuk mempedelas pesan yang disampaikan.
2) Struktur Pesan
Struktur pesan yang ingin disampaikan juga dapat mempengaruhi efektivitas proses komunikasi retoris. Yang perlu diperhatikan adalah susunan organis di mana elemen-elemen itu dikedepankan untuk mengungkapkan pesan. Pada prinsipnya struktur atau susunan pesan harus jelas dan mudah dimengerti.
3) Isi Pesan
Isi pesan yang di ungkapkan lewat medium harus dipertenggangkan dengan situasi resipiens. Isi pesan seharusnya mudah ditangkap, tidak boleh terlalu sulit, dan tidak rnengandung terlalu banyak ke-benaran, karena dapat membingungkan resipiens. Sebaiknya isi pesan dibatasi pada satu atau dua pokok pikiran yang diuraikan secara jelas, terinci dan tepat.
4) Proses Pembeberan
Yana dimaksudkan adalah cara membawakan dan mengemukakan pesan dari komunikator. Ada tiga kemungkinan yang dapat dipilih, yaitu membawakan secara bebas, tanpa teks, terikat pada teks, atau setengah bebas. Ketiga kemungkinan ini membawa efek yang berbeda dalam proses komunikasi. Tentang hal ini akan dibicarakan lebih lanjut.

Sumber : RETORIKA, Terampil Berpidato, Berdiskusi, Berargumentasi, Bernegosiasi Oleh P. Dori Wuwur Hendrikus, SVD.

DESAIN ORGANISASI

1. Struktur Sederhana (simple structure)
Struktur sederhana adalah sebuah struktur yang dicirikan dengan kadar departementalisasi yang rendah, rentang kendali yang luas, wewenang yang terpusat pada seseorang saja, dan sedikit formalisasi. Struktur sederhana paling banyak digunakan oleh usaha-usaha kecil di mana manajer dan pemilik adalah sama. Kekuatan utama dari struktur sederhana ini terletak pada kesederhanaanya. Cepat, fleksibel, tidak mahal untuk dikelola, dan akuntabilitasnya jelas. Sedangkan kelemahannya adalah tidak bisa diterapkan pada organisasi yang besar. Hal ini karena ketika diterapkan pada organisasi yang besar dimana formalisasi-nya yang rendah dan sentralisasinya yang tinggi akan menyebabkan kelebihan beban (overload) informasi di puncak. Pengambilan keputusan akan berjalan lambat karena tergantung kepada satu orang yaitu pemilik sekaligus pimpinan organisasi.
2. Struktur Birokrasi
Struktur birokrasi adalah sebuah struktur dengan tugas-tugas birokrasi yang sangat rutin yang dicapai melalui spesialisasi, aturan dan ketentuan yang sangat formal, tugas-tugas yang dikelompokkan ke dalam berbagai departemen fungsional, wewenang terpusat, rentang kendali sempit, dan pengambilan keputusan mengikuti rantai komando. Kekuatan utama birokrasi adalah terletak pada kemampuannya menjalankan kegiatan-kegiatan yang terstandar secara efisien. Menyatukan beberapa kekhususan dalam departemen-departemen fungsional menghasilkan skala ekonomi, duplikasi yang minim pada personel dan perlatan, dan karyawan memiliki kesempatan untuk berbicara “dengan bahasa yang sama” di antara rekan-rekan sejawat mereka. Sedangkan kelemahan struktur birokrasi adalah berlebihan dalam mengikuti aturan, tidak ada ruang untuk modifikasi, kurang inovatif dan birokrasi hanya efisien sepanjang karyawan menghadai masalah-masalah yang sebelumnya sudah diatur dengan jelas cara penyelesaiannya. Artinya, ketika dihadapkan pada permasalahan baru, struktur birokrasi menjadi tidak efisien lagi karena diperlukan aturan-aturan baru untuk menyelesaikan permasalah tersebut.
3. Struktur Matrik
Struktur matrik adalah sebuah struktur uang menciptakan garis wewenang ganda dan menggabungkan departementalisasi fungsional dan produk. Struktur ini dapat ditemukan pada agen-agen periklanan, perusahaan pesawat terbang, labolatorium penelitian, rumah sakit, lembaga-lembaga pemerintah, dll. Kekuatan departementalisasi fungsional terletak misalnya pada penyatuan para spesialis , yang meminimalkan jumlah yang diperlukan sembari memungkinkan pengumpulan dan pembagian sumber-sumber daya khusus untuk seluruh produksi. Sedangkan kelemahannya adalah sulit mengkoordinasi tugas para spesialis fungsional yang beragam agar kegiatan mereka selesai tepat waktu dan tepat anggaran. Karakteristik struktur matrik ia mematahkan konsep kesatuan komando. Karyawan yang berada dalam struktur matrik memiliki dua atasan (misal manajer produksi dan manajer fungsional). Kelemahan utama dari struktur matrik adalah sering menyebabkan kebingungan yang dapat meningkatkan stres karena ada ambiguitas peran sekaligus dapat menciptakan konflik.
MODEL-MODEL STRUKTUR
1. Model Mekanistik
  1. Mechanistic. Pada organisasi yang berbentuk mechanistic, terdapat ciri-ciri yaitu: adanya tingkat formalisasi yang tinggi, tingkat sentralisasi yang tinggi, training atau pengalaman kerja yang sedikit atau tidak terlalu penting, ada span of control yang lebar serta adanya komunikasi yang bersifat vertikal dan tertulis.
  2. Mostly Mechanistic. Pada jenis organisasi ini, terdapat ciri-ciri yaitu: adanya formalisasi dan sentralisasi pada tingkat moderat, adanya training-training yang bersifat formal atau wajib, span of control yang bersifat moderat serta terjadi komunikasi tertulis maupun verbal dalam organisasi tersebut
2. Model Organik
  1. Organic. Pada organisasi yang berbentuk organic, maka dalam organisasi ini terdapat tingkat formalisasi yang rendah, terdapat tingkat sentralisasi yang rendah, serta diperlukan training dan pengalaman untuk melakukan tugas pekerjaan. Selain itu terdapat span of control yang sempit serta adanya komunikasi horisontal dalam organisasi.
  2. Mostly Organic Pada organisasi yang berbentuk mostly organic, formalisasi dan sentralisasi yang diterapkan berada di tingkat moderat. Selain itu diperlukan pengalaman kerja yang banyak dalam organisasi ini. Terdapat span of control yang bersifat antara moderat sampai lebar serta lebih banyak komunikasi horisontal yang bersifat verbal dalam organisasi tersebut.
Sumber : Ivancevich, dkk. 2008. Perilaku dan Manajemen Organisasi. Jakarta : Erlangga
                Robbins dan Judge. 2007. Perilaku Organisasi, Jilid 2. Jakarta : Salemba Empat

Desain Pekerjaan yang Memotivasi Pekerja

Meningkatkan motivasi dengan menaikkan gaji, jaminan pensiun, dan mempersingkat jam kerja, misalnya kurang mampu menyingkirkan biang ketidakpuasan. Imbalan-imbalan itu tidak cukup memotivasi pekerja ke arah prestasi tertjnggi. Motivasi kerja harus timbul dari dalam dan dari pekerjaan sendiri. Karena itu desain pekerjaan perlu diusahakan agar menimbulkan motivasi dengan kriteria berikut.
 Unsur-unsur  pekerjaan harus dapat dikenali secara langsung, dalam kaitan dengan karya besar perusahaan. Seorang pekerja di seksi perbekalan tidak akan bersemangat bila tugasnya hanya menelepon pensuplai dan mencek pemenuhan pesanan saja sepanjang hari. la harus diberi motivasi dengan memberikan sejumlah tugas lain. Jenis pembelian diperluas, meliputi pembelian keperluan operasi, misalnya.
Tahapan tugas yang harus dilakukan lebih banyak lagi menawarkan kebutuhan, membandingkan harga, memilih pensuplai, mengeluarkan perintah pembelian dan mengesahkan penerimaan barang. Dengan pemekaran tugas dan tambahan kesibukan ini para pekerja lebih mudah menempatkan did di dalam keseluruhan tujuan dan kegiatan perusahaan. Pengelompokan tugas dan tanggung jawab pekerja harus menjadi dasar hubungan dengan orang yang menerima hasil kerja tersebut.
Desain modul pekerjaan harus memberikan variasi tugas yang cukup serta otonomi pada pekerja. Penciptaan variasi tugas biasanya disebut pembebanan horisontal. Sedangkan tambahan tanggung jawab merupakan pembebanan vertikal. Keduanya dimaksudkan untuk meningkatkan rangsangan semangat kerja.
Pekerja perlu mendapatkan umpan balik secara teratur dari orang yang menerima hasil kerjanya, dari atasannya, dan dari standar prestasi yang telah ditetapkan. Dari pekerjaan itu pekerja harus memperoleh peluang untuk meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan hingga mendapat penghargaan dan kemajuan.